Cerpen Cinta "Garis Waktu Adinda"
Garis
Waktu Adinda
Oleh
: Heike Kamarullah
Sebagian
mahasiswa masa ospek atau masa pengenalan kampus adalah sesuatu yang
membosankan. Ospek adalah masa dimana mahasiswa baru (maba) harus memenuhi
keinginan yang aneh-aneh dari kaka pendampingnya. Kebanyakan dari mereka hanya
nurut-nurut saja, ya meskipun setelah itu pasti mengeluh di belakang, tapi
tidak dengan Adinda Loverina, dia selalu bersemangat. Bagaimana tidak
bersemangat, pertama kali dia masuk di Universitas PGRI Semarang, dia jatuh
cinta pada pandangan pertama dengan Reza pria manis berbadan tinggi. Saat itu
dia sangat semangat mengikuti ospek karena tidak disangka mereka malah mendapat
satu kelompok, dan menjadi satu kelas. Begitulah kesan ospek bagi Dinda, tapi
itu dulu ketika cinta mereka masih bersatu. Hubungan keduanya hanya bertahan
selama satu tahun saja, lagi-lagi dia dikhianati oleh cinta. Pernah terbesit
dalam pikirannya bahwa semua lelaki itu sama, hingga membuatnya patah semangat
untuk soal asmara.
“Deb,
kisah cintaku kok ya gini-gini terus ya? Selalu berujung perselingkuhan. Gak
mujur banget kan yaa” ( ucap Dinda dengan nada khasnya)
“Halah
itu mah dasar cowonya aja yang oneng, udah dapet yang baik malah diselingkuhin,
Udahlah jodoh nggak akan kemana kan Din? tunggu saja dia yang benar-benar tulus
padamu” jawab Debby merespon keluhan Dinda sahabatnya. Dinda tidak menjawab
pertanyaan Debby.
Dia merenung sambil menikmati hiliran angin yang perlahan-lahan menyentuh lembut helaian rambutnya yang hitam pekat sebahu sembari membayangkan percakapannya kala itu di kursi taman berbahan besi dengan cat hitam yang mulai memudar dan terlihat sedikit karat. Dinginnya kursi ketika menyentuh kulit membuat sensasi tersendiri, lagi-lagi Dinda teringat akan percakapan itu satu tahun yang lalu dengan Deby. Yah itu adalah curhatannya tahun lalu pada Deby, di kursi yang dingin dia hanya bisa mengingat jelas percakapan-percakapannya dengan Deby yang telah pergi meninggalkan Dinda lebih dulu karena sakit.
Dia merenung sambil menikmati hiliran angin yang perlahan-lahan menyentuh lembut helaian rambutnya yang hitam pekat sebahu sembari membayangkan percakapannya kala itu di kursi taman berbahan besi dengan cat hitam yang mulai memudar dan terlihat sedikit karat. Dinginnya kursi ketika menyentuh kulit membuat sensasi tersendiri, lagi-lagi Dinda teringat akan percakapan itu satu tahun yang lalu dengan Deby. Yah itu adalah curhatannya tahun lalu pada Deby, di kursi yang dingin dia hanya bisa mengingat jelas percakapan-percakapannya dengan Deby yang telah pergi meninggalkan Dinda lebih dulu karena sakit.
Satu tahun telah berlalu, kalau
tahun lalu Dinda mengeluh pada Deby
karena kisah asmaranya, kini dia sadar
bahwa omongan-omongan deby benar adanya. Setelah kegalauannya pada
manntan pacar yang menghianatinya, Dinda memutuskan untuk mendaftar menjadi
pendamping ospek. Dia bukanlah anggota
himpunan mahasiswa atau sebagainya, tetapi dia mendapat tawaran dari temannya
untuk mengikuti kegiatan menjadi pendamping ospek mahasiswa baru. Dinda pikir dengan mengikuti kegiatan akan
membuatnya lupa akan kesedihannya karena dihianati dan ditinggal pergi
selama-lamanya oleh Deby sahabatnya. Dia juga ingin mengingat moment-moment
bersama sahabatnya selama ospek dulu. Hari pertama Dinda begitu bersemangat
menjalani kegiatan ospek, dia sangat antusias mendampingi adek-adek calon
mahasiswa di kelompoknya. Hingga pada
hari berikutnya tidak disangka dia melihat Amri teman seangkatannya yang juga
bertugas menjadi pendamping ospek. Menurut teman-temannya Amri adalah mahasiswa
yang ganteng, keren, dingin tapi juga pintar. Pertama kali Dinda melihat Amri,
dia tidak tertarik sama sekali. Konon Amri juga sempat membenci Dinda, karena
pada diskusi di salah satu mata kuliah Dinda pernah membuat Amri dan
teman-teman dikelompoknya kesal. Dinda terus memandangi Amri, tanpa sadar bibir
mungilnya bergerak menyungging sedikit melihatkan senyum manisnya. Dia heran
dulu dia bahkan tidak pernah tertarik sedikitpun untuk melihat Amri, tapi
sekarang dia malah kagum padanya. Dalam hatinya dia berkata “mungkin benar kata
orang, obat sakit hati adalah cinta yang baru”.
Waktu terus berlalu, pada hari
ketiga mata Dinda dan Amri bertemu, keduanya hanya saling senyum dengan raut
wajah malu-malu. Ini adalah hari terakhir ospek, dan besok adalah hari terakhir
dinda mendampingi mahasiswa baru untuk kegiatan bersih-bersih dan dilanjut malam inagurasi. Dinda tidak
bisa hadir mendampingi mahasiswa barunya besok, dia ada acara mendadak. Mau tidak mau dia harus mencari penggantinya
untuk mendampingi mahasiswa baru yang didampinginya. Semua pendamping sudah
mendapat kelompok sendiri-sendiri. Dia bingung setengah mati siapa yang harus
dimintainya tolong untuk menggantikannya,dia bertanya-tanya dengan
teman-temannya.
“Loh
Din, kenapa kamu nggak minta aja sama Amri, dia kan panitia pendamping. Jadi
dia pasti mau nggantiin kamu. Lagian ini kesempatan loh” saran nely pada Dinda
sekaligus meledeknya.
“Haha
bisa-bisanya deh, eh tapi bener juga ya dengan gini kan ada alasan untuk aku
chat dia. Kamu ada kontak nomor dia kan?”
“Haha
modusnya gak kuadd kamu, ada ini aku kirim ya, semoga berhasil haha” ucap nely
menepuk lenganku dan berlari meninggalkanku”.
Pukul delapan malam, Dinda tiduran
memandang kontak nomor Amri yang tertera dilayar gawainya. Dia ragu-ragu pada
dirinya, apakah langkah yang diambilnya adalah langkah yang tepat. Jika memang
tepat, harus memulai dengan bagaimana. Ribuan pertanyaan terbesit di kepalanya.
Hingga akhirnya dia yakin pada tekadnya untuk memulai chat Amri sesuai saran
Nely tadi siang.
<== “Malam.. ini
Amri yaa, ini aku dinda dari kelas 2C. Maaf ni ganggu malam-malam, mau minta
tolong bisa? Besok aku ada acara mendadak, bisa gantiin aku mendampingi
mahasiswa baruku tidak? Pleasee...”
Detik terus berjalan, menit terus
bertambah, dinda sangat gelisah menunggu balasan chat dari Amri. Sudah lewat
tiga puluh menit dan belum juga ada balasan. Dinda terus menunggu balasan dari
laki-laki itu. Berkali-kali dia mengecek layar gawainya hanya untuk memastikan
apakah chatnya sudah dibalas atau belum.
Tnpa sadar Dinda menunggu sampai dia ketiduran. Keesokan harinya dinda
terbangun dari tidurnya. Dia kaget karena ternyata dia menunggu balasan hingga
pagi. Awalnya dia tidak semnagat untuk membuka gawainya, karena dia takut
kecewa chatnya tidak dibalas. Akhirnya dia beranjak bangun dari tempat tidurnya
menuju kamar mandi, tiba-tiba gawainya berbunyi. Dinda langsung berlari dengan
semangat mengambil gawainya siapa tahu itu adalah balasan dari Amri, dannnnn
tertera nama Amri di layar gawainya hingga membuatnya lompat-lompat kegirangan
saking senangnya.
==> “ Oh iya Dinda,
maaf ya semalam aku sudah tidur hehe kecapean aku. Masalah mahasiswa barumu itu
gampang nanti aku yang gantiin juga nggak papa din, semnagat ya..”
Setelah membaca chat balasannya Dinda semakin kegirangan, tidak menyangka ternyata dia mengenal nama Dinda. Dinda kira dia tidak peduli dan benar-benar benci pada Dinda.
Setelah membaca chat balasannya Dinda semakin kegirangan, tidak menyangka ternyata dia mengenal nama Dinda. Dinda kira dia tidak peduli dan benar-benar benci pada Dinda.
Waktu terus berlalu, setelah chating
pertama kalinya itu, Dinda dan Amri semakin dekat. Bagi Dinda Amri adalah sosok
laki-lai yang seperti malaikat. Dia baik dan sangat lembut padanya. Setiap saat
mereka saling memberi kabar, hingga akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih.
Dinda kembali teringat bahwa ospek lagi-lagi mempertemukannya dengan laki-laki
yang dicintainya. Dinda tersenyum meski sama-sama dipertemukan karena ospek dia
berharap kisahnya tidak sama seperti yang dulu.
Dua tahun telah berlalu, Dinda pun
kini masih bersama dengan Amri. Kini Dinda merasa tidak bisa jauh dari Amri.
Dinda sangat menyayangi Amri. Bagi Dinda amri adalah laki-laki terbaik yang
pernah ada dihidupnya selain papanya. Dia berharap dapat selama-lamanya bersama
dengan laki-lakinya itu. Suatu saat Dinda mengajak Amri untuk pergi ke taman
kampus tempat dulu dia dan sahabatnya deby yang telah tiada biasa berkumpul.
“
Sayang, kamu tahu nggak ini adalah tempat aku dulu dengan Deby sahabatku yang
sering aku ceritain itu” (sambil menuntun Amri ke kursi besi dingin berwarna
hitam tempat duduk biasa Dinda dan Deby saat itu)
“kenapa
kamu tiba-tiba ngajak aku kesini sayang?” tanya amri lembut dengan menatap
hangat mata Dinda.
“Aku
ingin mengenalkanmu padanya sayang. Dulu dia pernah bilang ketika aku sedih
bahwa jodoh itu nggak akan kemana, dan aku diminta untuk menunggu dia yang
benar-benar tulus menyayangiku. Kurasa kini aku telah menemukan dia yang tulus
menyayangiku, itu kamu sayang. Makanya
aku bawa kamu kesini untuk menunjukan pada Deby bahwa aku telah menemukannya.”
Dinda mengatakannya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tidak bisa menahan rasa sedih dan harunya. Dia senang akhirnya dia bisa membuktikan perkataan sahabat baiknya itu bahwa akan ada orang yang tulus mencintainya yang datang padanya. Tetapi disisi lain dia juga sedih bahwa sahabatnya itu tidak bisa melihatnya langsung.
Dinda mengatakannya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tidak bisa menahan rasa sedih dan harunya. Dia senang akhirnya dia bisa membuktikan perkataan sahabat baiknya itu bahwa akan ada orang yang tulus mencintainya yang datang padanya. Tetapi disisi lain dia juga sedih bahwa sahabatnya itu tidak bisa melihatnya langsung.
“
Iya sayang, terima kasih telah mempercayakan itu padaku. Aku janji akan jaga
kamu selalu, jangan nangis sayang nanti Deby sedih. Harusnya kamu tunjukin dong
ke dia bahwa kamu sekarang sudah bahagia denganku. Aku pacarmu, temanmu,
sekaligus sahabatmu engganti Deby.” Ucap Amri sembari merangkul hangat
Dinda.
Setelah hari dimana Dinda membawa
kekasihnya Amri ke tempat kenangan dia dan sahabatnya, dia jadi sadar bahwa
anggapannya yang dulu terhadap lelaki itu salah. Semua lelaki itu tidak sama,
hanya bergantung dari masing-masing pribadinya saja. sedih, galau memang boleh tapi tidak untuk
berlarut-larut. Jangan melulu menyalahkan lelaki ketika dikhianati olehnya, jangan biarkan kemarahan
dan kekecewaanmu mengurungmu dalam suatu dendam. Tapi bukalah pikiranmu, karena
sejatinya obat yang paling majur ketika patah hati adalah cinta yang baru. Tapi
ingat, sembuhkanlah dulu hatimu sebelum memulai cinta yang baru. Dan itulah
yang dilakukan oleh Dinda hingga dia mencapai bahagianya seperti saat ini. Dia
kini berpikir bahwa semua bisa berakhir,orang bisa berubah tetapi satu yang
pasti bahwa hidup akan terus berjalan. Meskipun dia dihianati oleh mantan pacarnya
dan ditinggal oleh Deby sahabatnya yang
paling dia sayangi, dia tidak menyerah. Dia terus maju dan menjalani hidupnya
menelusuri garis waktunya, karena dia percaya setiap orang memiliki garis
waktunya sendiri. Kini Dinda sadar bahwa waktu yang menyulitkannya saat itu telah mengantarkannya menuju kebahagiaannya saat ini bersama Amri.

Komentar
Posting Komentar